Cerpen Pilihan Kompas 2013 – Klub Solidaritas Suami Hilang

Rp63.000

Buku ini membuktikan bahwa regenerasi cerpenis di Indonesia berlangsung secara terus-menerus dan simultan. Karya-karya para cerpenis kawakan seperti Gerson Poyk, Putu Wijaya, Budi Darma, Arswendo Atmowiloto, Gde Aryantha Soetama, dan F Rahardi, bersanding dengan karya-karya para cerpenis yang lebih muda seperti Seno Gumira Ajidarma, Jujur Prananto, Agus Noor, Indra Tranggono, Gus tf Sakai, Triyanto Triwikromo, Damhuri Muhamad, Intan Paramadhita, Noviana Kusumawardhani, AK Basuki, dan Dewi Ria Utari. Bahkan memasukkan juga nama-nama muda seperti Sungging Raga, Guntur Alam, A Mutaqqin, dan Zaidinoor.

Karya-karya mereka menumbuhkan optimisme bahwa sastra kita tak pernah mati!

 

Clear

Description

Buku ini membuktikan bahwa regenerasi cerpenis di Indonesia berlangsung secara terus-menerus dan simultan. Karya-karya para cerpenis kawakan seperti Gerson Poyk, Putu Wijaya, Budi Darma, Arswendo Atmowiloto, Gde Aryantha Soetama, dan F Rahardi, bersanding dengan karya-karya para cerpenis yang lebih muda seperti Seno Gumira Ajidarma, Jujur Prananto, Agus Noor, Indra Tranggono, Gus tf Sakai, Triyanto Triwikromo, Damhuri Muhamad, Intan Paramadhita, Noviana Kusumawardhani, AK Basuki, dan Dewi Ria Utari. Bahkan memasukkan juga nama-nama muda seperti Sungging Raga, Guntur Alam, A Mutaqqin, dan Zaidinoor.
Karya-karya mereka menumbuhkan optimisme bahwa sastra kita tak pernah mati!

Keterampilan mengubah bahasa menjadi garis-garis sketsa impresionis yang ringkas dan bernas tampil paling mempesona pada cerpen “Klub Solidaritas Suami Hilang” dari Intan Paramaditha. Dengan serba singkat dan efisien, namun tanpa kehilangan plastisitas, cerpen ini melukiskan keunikan dan kompleksitas hubungan-hubungan pernikahan yang mendadak patah secara tak terduga. Metafor-metafornya segar, kadang mengejutkan. Seolah sambil lalu dan tanpa banyak pretensi, cerpen ini menyibakkan aneka kebusukan, kepahitan, dan misteri hubungan antar manusia, secara jeli, mendalam, dan menikam. Segala keterampilan yang dituntut untuk mencipta sebuah cerita pendek yang bagus ternyata berkulminasi pada cerpen ini. Selamat menikmati.

Bambang Sugiharto, Guru Besar Estetika Universitas Parahyangan Bandung.

Tahun 2014 ini adalah tahun politik. Apapun yang kita lakukan berisiko ditafsirkan dengan kacamata politik. Buku kumpulan cerpen ini misalnya bisa dianggap bermuatan politik, lantaran ada cerpen berjudul “Aku, Pembunuh Munir”, seiring dengan cerpen yang ditulis berdasar peristiwa nyata yaitu terbunuhnya seorang aktivis terkemuka. Apalagi pengarangnya, Seno Gumira Ajidarma dikenal luas dengan ungkapan “kalau jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara”. Seturut tradisinya, buku kumpulan cerpen Kompas diluncurkan pada akhir Juni, dan ini berarti tepat di tengah kancah pemilihan presiden. Karena itu ia bisa menjadi komoditas panas dan gampang mendapat liputan yang sungguh diharapkan oleh pemasar buku di mana pun.

Efix Mulyadi, Dewan Juri Cerpen Pilihan Kompas 2013.

Pemilihan cerpen-cerpen yang termuat di Kompas Minggu dan kemudian dibukukan sudah dimulai sejak tahun 1992. Aktivitas itu tidak semata menjadi agenda rutin, tetapi diharapkan menjadi perayaan bersama untuk menggerakkan dunia keberaksaraan di koran, yang semakin hari menghadapi tantangan keras dari bentuk-bentuk wahana digital. Cerpen-cerpen yang terpilih dalam buku ini, menjadi satu alasan untuk terus bekerja, menulis, dan memberi kontribusi pemikiran yang berujung pada penumbuhan kreativitas. Sastra boleh terpencil, tidak dilirik, tetapi gagasan harus terus lahir dan dikumandangkan. Putu Fajar Arcana, Redaktur Sastra dan Budaya Harian Kompas.

Additional information

Weight 0.3 kg
Dimensions 21 × 14 cm
ISBN

978-979-709-838-4

Penerbit

Penerbit Buku Kompas

Penulis

Kumpulan Cerpenis

Tanggal Terbit

2014

Jumlah Halaman

200

Ukuran

21 x 14 cm

Tujuan Pengiriman