Kata-kata Terakhir Romo Mangun

Rp54.000

”Saya ini daging tua, tidak menarik diterjang peluru… Ya… pa­li­ng-paling jadi pupuk…,” demikian potongan-potongan ucap­an Romo Mangun yang terdengar panitia seminar di Hotel Le Meridien, Jakarta, dalam obrolan saat rehat siang, sesaat sebelum ia meninggal dunia karena serangan jantung.

Clear

Description

”Saya ini daging tua, tidak menarik diterjang peluru… Ya… pa­li­ng-paling jadi pupuk…,” demikian potongan-potongan ucap­an Romo Mangun yang terdengar panitia seminar di Hotel Le Meridien, Jakarta, dalam obrolan saat rehat siang, sesaat sebelum ia meninggal dunia karena serangan jantung.

Di awal tahun 1999 itu kita sempat terhenyak mendengar kabar wafatnya Romo Ma­ngun. Ia mengembuskan napas terakhir dengan cara mulia, sebagai cendekiawan, saat  menjadi pembicara dalam sebuah seminar. Budayawan Mohamad Sobary menjadi salah seorang saksi terakhir kehidupan Romo Mangun, yang  siang itu tiba-tiba saja memeluknya sebelum kepalanya jatuh terkulai di pundaknya.

Siapa tak kenal Romo Mangun atau Y.B. Mangunwijaya? Ia rohaniwan ”penunggu” kali Code, Yogya, yang gerak kegiatannya blusuk­an ke mana-mana: arsitek, novelis, esais. Ia juga pembela mereka yang miskin dan lemah, termasuk kaum petani Kedungombo yang kampungnya bakal segera terendam air waduk di penghujung de­kade 1980-an.

Di dalam tas Romo Mangun kemudian ditemukan sepucuk surat yang ditujukan kepada Presiden B.J. Habibie. Apa isi surat terbuka tersebut? Benarkah Romo Mangun dan Habibie sesungguhnya teman akrab? Apa pula pesan Romo Mangun kepada generasi muda?

Additional information

Weight 0.2 kg
Dimensions 13 × 19 cm
ISBN

978-979-709-795-0

Penerbit

Penerbit Buku Kompas

Penulis

Kolumnis dan Wartawan Kompas

Tanggal Terbit

2014

Jumlah Halaman

216

Ukuran

13 x 19 cm