Tionghoa dalam Sejarah Militer – Sejak Nusantara sampai Indonesia

Rp63.000

“Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan Negara.” (Pasal 30 Ayat 1 UUD 1945)

Mengungkap fakta sejarah yang tak banyak diketahui. Keterlibatan warga Tionghoa dalam berbagai aktivitas kemiliteran di Nusantara ternyata telah berlangsung lebih dari satu milenium. Patriot-patriot berkulit kuning telah ikut berjuang bersama kaum pribumi sejak zaman pra-kolonial, kolonial, Perang Kemerdekaan RI (1945-1949), masa Konfrontasi Ganyang Malaysia (1963-1966), sampai masa Operasi Seroja Timtim (1976). Banyak di antaranya kemudian dilupakan, namun ada juga yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan dari Sabang sampai Merauke.

Clear

Description

“Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan Negara.” (Pasal 30 Ayat 1 UUD 1945)

Mengungkap fakta sejarah yang tak banyak diketahui. Keterlibatan warga Tionghoa dalam berbagai aktivitas kemiliteran di Nusantara ternyata telah berlangsung lebih dari satu milenium. Patriot-patriot berkulit kuning telah ikut berjuang bersama kaum pribumi sejak zaman pra-kolonial, kolonial, Perang Kemerdekaan RI (1945-1949), masa Konfrontasi Ganyang Malaysia (1963-1966), sampai masa Operasi Seroja Timtim (1976). Banyak di antaranya kemudian dilupakan, namun ada juga yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan dari Sabang sampai Merauke.

Prajurit dan panglima Tionghoa—Totok maupun Peranakan—antara lain pernah ikut ambil bagian dalam aksi penyerbuan armada laut Jepara ke Malaka (abad ke-16); “Geger Pacinan” atau perang Jawa-Tionghoa melawan VOC-Belanda (abad ke-18); dan Perang Kongsi di Kalimantan Barat (abad ke-19).

Tahukah Anda bahwa dalam sejarah kemiliteran Indonesia pernah ada: laskar “Pembrontak Tiong Hoa” serta “Laskar Pemuda Tionghoa” yang mendukung Proklamasi 1945; tokoh John Lie, pahlawan Angkatan Laut yang menjadi Pahlawan Nasional (2009); dan para perwira Tionghoa alumni Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) dari matra darat, laut, dan udara?

Buku ini berupaya memperbaiki ingatan kebangsaan tentang peran masyarakat Tionghoa sebagai salah satu elemen bangsa Indonesia modern yang bersatu, berdaulat, dan setara.

“Sejak zaman kerajaan Nusantara hingga Republik Indonesia, kemerdekaan dan kedaulatan diperjuangkan seluruh komponen bangsa, termasuk oleh etnis Tionghoa. Sederajat dan setara, senasib dan sepenanggungan, itulah semangat kebangsaan sejati bagi restorasi bangsa menuju Indonesia Hebat!” SURYA PALOH, Penggagas Metro Xin Wen, program televisi berbahasa Mandarin pertama di Indonesia

“Memberi gambaran peran etnis Tionghoa dalam menjaga Nusantara, merebut kemerdekaan, dan memaknai NKRI yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Buku yang diharapkan dapat menumbuhkan semangat generasi muda, termasuk pemuda-pemudi Tionghoa, untuk ikut dalam bela negara secara sukarela dan aktif seiring dengan hak dan kewajiban seluruh warga negara Indonesia.” JENDERAL TNI BUDIMAN,
Kepala Staf TNI AD periode 2013-2014

Additional information

Weight 0.3 kg
Dimensions 14 × 21 cm
ISBN

978-979-709-871-1

Penerbit

Penerbit Buku Kompas

Penulis

Iwan Santosa

Tanggal Terbit

2014

Jumlah Halaman

272

Ukuran

14 x 21 cm