Ensiklopedia Pulau-pulau Kecil Nusantara: Aceh

Rp86.000

Di samping kekayaan alam laut, Aceh juga memiliki kekayaan sejarah dan warisan budaya yang khas dan beragam, yang kental dengan nilai-nilai Islam, menjadikan provinsi ini satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan hukum Islam secara otonom.

Potensi di Provinsi Aceh masih belum dimanfaatkan secara optimal dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitarnya. Hal ini disebabkan antara lain akibat sumber daya manusia yang terbatas, konflik yang berkepanjangan di masa lampau, dan bencana alam tsunami tahun 2004 silam. Selain itu, pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan juga terkendala dengan minimnya data yang berkaitan dengan sumber daya laut, pesisir dan pulau-pulau kecil.

Clear

Description

Aceh, si ‘Serambi Mekkah’ yang harum bak bungong jeumpa. Si penjaga, selaku pagar raya di barat laut Nusantara.

Aceh merupakan provinsi Indonesia paling barat yang memiliki kekayaan alam yang beragam dan melimpah. Berdasarkan letak geografisnya, Provinsi Aceh terletak berdekatan dengan Kepulauan Andaman dan Nikobar (India) dan terpisahkan oleh Laut Andaman dan berbatasan dengan Teluk Benggala di sebelah utara, Samudera Hindia di sebelah barat, Selat Malaka di sebelah timur, dan Provinsi Sumatera Utara di sebelah tenggara dan selatan. Luas laut territorial dan ZEEI-nya 591.089 km2 dengan panjang pantai 1.660 km. Provinsi Aceh memiliki 260 pulau yang enam di antaranya merupakan pulau-pulau kecil terluar. Secara administratif, Provinsi Aceh terdiri dari 23 kabupaten/kota, dengan 18 kabupaten/kota di antaranya berpesisir.

Di samping kekayaan alam laut, Aceh juga memiliki kekayaan sejarah dan warisan budaya yang khas dan beragam, yang kental dengan nilai-nilai Islam, menjadikan provinsi ini satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan hukum Islam secara otonom.

Potensi di Provinsi Aceh masih belum dimanfaatkan secara optimal dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitarnya. Hal ini disebabkan antara lain akibat sumber daya manusia yang terbatas, konflik yang berkepanjangan di masa lampau, dan bencana alam tsunami tahun 2004 silam. Selain itu, pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan juga terkendala dengan minimnya data yang berkaitan dengan sumber daya laut, pesisir dan pulau-pulau kecil.

 “Setelah mengakte-lahirkan pulau kita alias menamakannya, maka selanjutnya anak-anak  alias pulau tersebut perlu dibesarkan dan dibina untuk optimalisasi potensinya bagi kepentingan  orang tuanya alias NKRI. Itulah tujuan publikasi ensiklopedia ini.” – Prof. Dr. Alex S.W. Retraubun, M.Sc. (Wakil Menteri Perindustrian)

Hadirnya buku Ensiklopedia Pulau-pulau Kecil ini, merupakan upaya yang luar biasa untuk menguak aset potensial negara kepulauan Indonesia. Buku yang sangat informatif dan komprehensif ini seyogianya dapat dijadikan dasar pijak bagi para pengambil kebijakan dan para pemangku kepentingan lainnya dalam mengoptimalkan pengelolaan aset pulau-pulau kecil yang sangat potensial bagi sebesar-besarnya kesejahteraan dan kemakmuran rakyat negeri ini secara berkesinambungan. – Prof. Dr. Ir. Dietriech G. Bengen, DAA, DEA (Guru Besar Kelautan IPB dan Sekjen HAPPI

Provinsi Aceh, merupakan provinsi paling barat RI yang mempunyai potensi sumber daya alam yang beragam, kaya dan berpotensi sebagai penopang pembangunan ekonomi nasional. – Sharif C. Sutardjo, Menteri Kelautan dan Perikanan
Aceh, si ‘Serambi Mekkah’, memiliki kekayaan sejarah dan warisan budaya yang khas dan beragam yang kental dengan nilai-nilai Islam, menjadikan provinsi ini satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan syariat Islam secara otonom. – Zaini Abdullah, Gubernur Provinsi Aceh

Additional information

Weight 0.4 kg
Dimensions 15 × 23 cm
ISBN

978-979-709-854-4

Penerbit

Penerbit Buku Kompas

Penulis

Tim Kementrian Kelautan dan Perikanan

Tanggal Terbit

2014

Jumlah Halaman

208

Ukuran

15 x 23 cm