Surabaya Tumpah Darahku

Rp81.000

Diceritakan dari sudut pandang keluarga Johanes Pastora, cerita di penampungan orang Ambon di Kapas Krampung melibatkan konflik golongan tua yang sangat menjaga relasi dengan Jepang dengan golongan muda yang bersemangat untuk ikut berjuang mengusir Jepang.

 

Clear

Description

Penguasaan Bahasa Belanda yang sebelumnya menjadi kebanggan orang Ambon di zaman penjajahan Belanda, menjadi tak berarti dan malah harus disembunyikan di zaman penjajahan Jepang. Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang bukan hanya digunakan karena mereka merupakan orang Indonesia, tetapi saat itu pemakaian bahasa itu menyelamatkan mereka dari Jepang.

Inilah cerita tentang permukiman orang Ambon bentukan Jepang di Surabaya. Orang Ambon di Krembangan Barat diusir dari rumahnya yang besar-besar untuk dipakai orang Jepang dengan iming-iming akan dipulangkan ke Ambon. Mereka berbondong-bondong diangkut dengan prahoto ke Surabaya, yaitu pasar Kapas Krampung yang masih berupa rawa-rawa. Mereka harus membuat sendiri rumah mereka dari papan, diberi jatah makan oleh orang Jepang, sampai lupa bahwa mereka ditampung di sana dengan harapan akan dipulangkan ke Ambon. Beberapa orang Ambon berinisiatif untuk ikut berjuang di Surabaya saja, ikut mengalahkan orang Jepang. Bagi mereka, Surabaya adalah tumpah darahnya. Saat Jepang dikalahkan Sekutu, orang-orang Ambon di penampungan tersebut mencari penghidupannya sendiri-sendiri. Banyak dari antara mereka ikut mempertahankan kemerdekaan di Indonesia, bahkan terlibat dalam peristiwa penyobekan bendera Belanda di hotel Oranye.

Diceritakan dari sudut pandang keluarga Johanes Pastora, cerita di penampungan orang Ambon di Kapas Krampung melibatkan konflik golongan tua yang sangat menjaga relasi dengan Jepang dengan golongan muda yang bersemangat untuk ikut berjuang mengusir Jepang. Dalam situasi yang serba tegang dan penuh konflik setiap hari, muncul juga kegembiraan anak-anak, Jootje, yang sering sembunyi-sembunyi keluar dari kamp penampungan, bermain dan mencari informasi dari warga sekitar Kampung Sawah.

Additional information

Weight 0.4 kg
Dimensions 19 × 13 cm
ISBN

978-602-412-082-5

Penerbit

Penerbit Buku Kompas

Penulis

Suparto Brata

Tanggal Terbit

2016

Jumlah Halaman

344

Ukuran

19 x 13 cm

Tujuan Pengiriman

You may also like…